Mewujudkan visi SMANU MH Thamrin

Ini adalah tulisan lama saya beberapa saat setelah saya dipindah dari SMAN 8 Jakarta ke SMANU MH Thamrin (. Walaupun mungkin sudah tidak relevan lagi dengan  perkembangan terkini, namun lumayanlah untuk meramaikan khazanah pemikiran tentang arah SMANU MH Thamrin ke depan . Awalnya saya hanya membagi tulisan ini kepada beberapa orang saja yaitu bu Wike dan Pak Chilmar (orangtua siswa).  Sekaranga rasanya saya ingin menyumbangkan pemikiran ini untuk menjadi bahan diskusi bersama;’

Latar belakang kebijakan

SMANU MH Thamrin adalah sekolah unggulan pemerintah provinsi DKI Jakarta yang ditetapkan berdasarkan peraturan gubernur no 212 tahun 2010. Pada pasal 3 yang terdiri dari 5 ayat dinyatakan bahwa SMANU MH Thamrin adalah unit pelaksana Teknis (UPTD) dinas pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan menengah umum dengan kurikulum yang bertaraf internasional. Di dalam peraturan gubernur ini diatur mengenai struktur organisasi beserta tugas dan persyaratan personalia yang duduk di dalamnya.

Menindaklanjuti peraturan gubernur no 212 tahun 2010, kepala dinas pendidikan DKI Jakarta menerbitkan peraturan kepala dinas pendidikan DKI Jakarta mengenai pengelolaan SMANU MH Thamrin. Di dalamnya dimuat mengenai keharusan SMANU MH Thamrin untuk memiliki panduan pengelolaan sekolah yang meliputi tata tertib peserta didik, peraturan akademik, Kurikulum tingkat Satuan pendidikan.

Apabila ditilik dari dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dimiliki SMANU MH Thamrin tahun pelajaran 2013/2014, dapat dilihat Visi, Misi, dan tujuan sekolah. Selanjutnya Visi-Misi itu dijabarkan menjadi struktur dan kerangka kurikulum. Saya akan mencoba melihat keterkaitan tujuan pendirian SMANU MH Thamrin sebagaimana disebutkan dalam pergub No 212/2010, Visi sekolah dan penjabaran dalam struktur kurikulum.

Gagasan pendirian SMANU MH Thamrin mungkin salah satunya didasari dari adanya amanah UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 50 ayat 3 yaitu :

“Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”

SMANU MH Thamrin mulai menerima peserta didik pada tahun pelajaran 2009/2010. Pada waktu itu di DKI Jakarta sudah ada 10 sekolah dengan kategori Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yaitu SMAN 3, SMAN 8, SMAN 13, SMAN 21, SMAN 28, SMAN 61, SMAN 68, SMAN 70, SMAN 78 dan SMAN 81. Kesepuluh sekolah itu ditetapkan menjadi kategori RSBI tidak secara bersamaan, diantaranya ada yang ditetapkan tahun 2006/2007 seperti SMAN 8 Jakarta dan SMAN 81 Jakarta. Di samping sekolah RSBI, DKI Jakarta juga sudah memelopori layanan bertaraf internasional melalui program kelas Internasional sejak tahun pelajaran 2005/2006 atau satu tahun sebelum penetapan sekolah RSBI angkatan pertama. Pada pengelolaan sekolah RSBI tidak ada perubahan drastis dari struktur dan ketenagaan di sekolah, sedang pada layanan kelas internasional, dinas pendidikan provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan konsultan kurikulum cambridge dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI). Konsultan melakukan rekruitmen guru dengan persyaratan akademis sesuai bidangnya dan memiliki kemampuan bahasa Inggris. Mereka yang lulus seleksi selanjutnya ditempatkan untuk mengajar kurikulum Cambridge IGCSE dan A/AS level di sekolah-sekolah penyelenggara program Kelas Internasional. Sekolah penyelenggara mendapatkan pengalaman mengelola kelas Internasional melalui interaksinya dengan pengajar dan manajemen konsultan.

Sementara itu pada tahun 2005/2006, dinas pendidikan juga menyelenggarakan kelas super di SMAN 3 Jakarta bekerjasama dengan Surya Institute. Persyaratan untuk menjadi siswa di kelas super sangat ketat yakni memiliki IQ diatas 150. Hal ini lumrah, karena mereka akan mendapatkan fasilitas bebas biaya pendidikan dan materi yang diajarkan sampai setingkat sarjana. Jumlah siswa pun terbatas sampai 20 siswa.

Program dan inovasi pendidikan di DKI Jakarta yang cukup beragam dan tersebar di berbagai sekolah ini, mungkin dicoba disatukan melalui pendirian SMANU MH Thamrin. Di atas tanah seluas 3,7 ha dibangun gedung sekolah, asrama, taman dan fasilitas olahraga sebagai perangkat kerasnya. Lalu denggan menggandeng Surya Institute, dinas pendidikan mulai menyiapkan perangkat lunak sekolah ini. Rekruitmen awal SMANU MH Thamrin adalah pengalihan dari kelas super, dimana persyaratan calon peserta didik kelas super harus dipenuhi. Sekolah ini mengusung tagline sekolah olimpiade. Visi SMANU MH Thamrin adalah

“Menjadi sekolah Sains bertaraf Internasional yang menghasilkan lulusan unggul dalam Imtaq dan Iptek serta berdaya saing global.”

 

Visi ini sejalan dengan dugaan saya mengenai latar belakang pendirian SMANU MH Thamrin yaitu mewujudkan amanat UU Sisdiknas No 20/2003 dan pergub No 212/2010 seperti telah saya uraikan di atas. Benang merah dari rangkaian undang-undang dan peraturan tersebut adalah “menjadi sekolah bertaraf internasional “. Sebagaimana sekolah-sekolah RSBI yang ada di Jakarta, visi mereka juga ingin menjadi sekolah bertaraf internasional. Lalu seperti apakah sekolah bertaraf internasional tersebut ?

Direktorat Manajemen Dikdasmen telah mengeluarkan panduan bagaimana melaksanakan sekolah bertaraf internasional. Di dalam panduan tersebut dijelaskan mengenai Visi sekolah bertaraf internasional, bagaimana merencanakan sebuah sekolah untuk menjadi RSBI melalui evaluasi diri dan pembuatan Rencana Pengembangan Sekolah, serta standar dan kriteria keunggulan SMA Bertaraf Internasional.

Prestasi pada Olimpiade baik nasional maupun internasional sebagai salah satu indikator peningkatan daya saing peserta didik menjadi perhatian dalam pengembangan sekolah bertaraf internasional. Sebagaimana dapat dilihat di dalam panduan penyelenggaran R SMA BI, keajegan prestasi di dalam olimpiade dipersyaratkan bagi RSBI (hal 21). Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilaksanakan kegiatan pengayaan yang merujuk pada soal-soal olimpiade (hal 32), penggunaan soal olimpiade untuk uji kompetensi (hal 34) dan umpan balik (hal 15).

Menjuari olimpiade sains adalah salah satu indikator dari kata kompetitif atau berdaya saing global sebagaimana menjadi visi pendidikan nasional yaitu :

“Menghasilkan Insan Indonesia yang cerdas kompetitif pada tahun 2025.”

Kesiapan sebuah sekolah untuk dikembangkan menjadi menjadi bertaraf internasional juga harus menjadi pertimbangan, itulah sebabnya pemerintah membuat persyaratan bahwa sekolah yang akan dikembangkan menjadi bertaraf internasional harus terlebih dahulu memenuhi standar nasional pendidikan (PP No 19 tahun 2005).

Pengembangan Sekolah

Apabila sebuah sekolah sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan, maka untuk mengembangkannya menjadi bertaraf internasional tinggal menambahkan standar internasional ke dalam masing-masing standar nasional. Standar Internasional yang diacu adalah standar yang dipergunakan oleh negara maju atau yang tergabung dalam OECD. Standar Nasional pendidikan tersebut meliputi Standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan dan standar pembiayaan.

Menjadi sekolah bertaraf internasional adalah menjadi sekolah unggulan di tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Standar Nasional Pendidikan ditambah dengan standar pendidikan salah satu negara maju apabila diacu akan dapat membawa sekolah menjadi lebih efektif dalam membuat peserta didik berhasil. Pengembangan standar beserta indikator RSBI tentu telah melalui proses penelitian dan pengujian, sehingga bagi sekolah akan lebih mudah dalam mencari panduan mewujudkan sekolah yang efektif tersebut.

SMANU MH Thamrin adalah satu-satunya sekolah yang berstatus unggulan di provinsi DKI Jakarta. Proses seleksi masuk SMANU MH Thamrin dilakukan lebih dahulu dari sekolah lainnya. Sebelum tahun pelajaran 2012/2013 atau sebelum keluarnya keputusan MK mengenai pembatalan pasal 50 UU sisdiknas, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di DKI Jakarta dibagi menjadi tiga yaitu PPDB SMANU MH Thamrin, PPDB RSBI dan PPDB sekolah reguler. Jika melihat proses PPDB, maka dapat diasumsikan bahwa peserta didik SMANU MH Thamrin setidaknya sama atau lebih unggul dibanding sekolah lainnya.

Untuk melayani peserta didik dengan karakteristik cerdas dan berbakat sesuai dengan visinya , SMANU MH Thamrin membuat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di dalam KTSP SMANU MH Thamrin dapat dilihat sumberdaya sekolah, dan struktur kurikulum. Beban kurikulum SMANU MH Thamrin 58 jam/ perminggu, belajar dari hari senin hingga jumat, jam 7.00 s.d 15.45, dan hari sabtu mulai jam 07.00 s.d 14.30. Kompetensi muatan isi SMANU MH Thamrin dapat dilihat pada tabel berikut :

No. Tahun/Kelas Uraian Materi Kompetensi/mutan isi
1. Pertama/X Kompetensi/muatan isi yang sesuai dengan standar nasional pendidikan, yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
2. Kedua/XI Kompetensi/muatan materi olimpiade dan program Internasional (Cambridge International Examination).
3. Ketiga/XII Program penelitian, persiapan perguruan tinggi, dan program sertifikasi nasional dan internasional.

 

Kompetensi muatan isi sebagaimana diperlihatkan tabel di atas, terutama ditujukan untuk mata pelajaran yang disebut “hard science” yaitu matematika, fisika, kimia dan biologi. Penjabaran muatan ini tersebut kedalam struktur kurikulum adalah sebagai berikut :

NO Mata Pelajaran X XI XII
1 Matematika SI 8
2 Fisika SI 8
3 Kimia SI 8
4 Biologi SI 8
5 Matematika, Fisika, Kimia, Biologi Cambridge 4 5
6 Pendidikan Agama 2 2 2
7 PKn 4 4 2
8 Bahasa Indonesia 4 4 4
9 Bahasa Inggris 4 4 2
10 Pilihan :Matematika, Fisika, Kimia, Biologi ( Olimpiade) 8 5

 

Dari tabel di atas terlihat bahwa untuk mata pelajaran yang tergolong hard science harus dapat menyelesaikan standar isi dalam waktu satu tahun. Mengingat alokasi waktu untuk sekolah reguler normalnya kelas X 4 Jp, kelas XI 4 JP dan kelas XII 4 JP. Apabila dijumlahkan silabus SI akan dapat diselesaikan dalam tiga tahun dengan alokasi akumulatif 12 JP. Artinya apabila ingin diselesaikan dalam satu tahun dibutuhkan alokasi 12 JP/minggu. Namun persoalan berikutnya adalah dalam penyajian pelajaran harus mempertimbangkan efek kebosanan dan syarat pengetahuan yang harus dikuasai terlebih dahulu. Pertimbangan tersebut dapat dinyatakan dengan kalimat sederhana yaitu 1 x 5 tidak sama dengan 5 x 1. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa beban kurikulum SI tidak cukup apabila hanya disediakan waktu satu tahun, walaupun sudah ditambah alokasi waktunya dari 4 JP menjadi 8 JP. Menurut pertimbangan saya akan lebih baik apabila kurikulum hard science SI diberikan paling sedikit 3 semester. Alasannya adalah di kelas X diberikan alokasi 8 JP dan di kelas XI semester ganjil 4 JP. Penyebaran materi pelajaran ke dalam 3 semester diharapkan akan dapat mengurangi beban yang harus dipelajari peserta didik tiap semesternya, disamping memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyerap dan berlatih soal.

Persoalan yang dihadapi SMANU MH Thamrin bukan hanya pada struktur kurikulum saja, tetapi masih ada lagi yang lain. Namun titik tolak untuk melihat permasalahan dan mencari solusinya menurut saya terletak pada struktur kurikulum.

SMANU MH Thamrin saat ini memiliki 12 guru PNS, 24 guru honorer dan 12 guru outsourcing (konsultan), 4 PNS tata usaha, 30 pegawai honorer dan 50 pegawai kebersihan outsourcing. SMANU MH Thamrin sudah saatnya melakukan penyesuaian struktur kurikulum dan pola pengasuhan peserta didik di asrama dengan sumber daya yang ada, petunjuk pelaksanaan pengelolaan SMANU MHT dan menimbang peraturan perundangan yang berlaku.

Penyesuaian yang saya maksudkan adalah pengaturan jam kerja, lembur, pemenuhan kewajiban minimal guru PNS, pemberian layanan pengayaan bagi yang sudah dapat melampaui target kurikuler, remedial bagi yang di bawah target kurikuler dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran atau pembinaan di asrama. Pengaturan itu diperlukan agar dapat memaksimalkan potensi guru, karyawan dan anggaran yang tersedia. Faktor anggaran adalah salah satu bahan pertimbangan, dikarenakan SMANU MH Thamrin sedang berusaha untuk memaksimalkan alokasi dana dari APBD.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa selama ini pembiayaan pendidikan di SMANU MH Thamrin bersumber dari APBD dan sumbangan orangtua yang dikelola oleh komite sekolah. Sejak tahun pelajaran 2011/2012, desakan sekolah gratis di jenjang pendidikan menengah semakin menguat, ditandai dengan naiknya alokasi dana Biaya Operasinal Pendidikan (BOP) dari Rp. 75.000/siswa/bulan menjadi Rp. 400.000/siswa/bulan. Seiring dengan naiknya BOP, kepala dinas pendidikan provinsi DKI Jakarta mengeluarkan instruksi No 1526/ 2012 mengenai larangan memungut IRB dan IPDB bagi sekolah reguler dan pembatasan pungutan bagi sekolah RSBI. Kemudian penerapan instruksi tersebut mengalami perubahan dengan dihapuskannya RSBI, sehingga kini semua sekolah negeri masuk dalam kategori reguler dan oleh karenanya dilarang melakukan pungutan. SMANU MH Thamrin menyandang nama sekolah unggulan, namun di dalam instruksi kepala dinas dan surat edaran mendikbud tidak ditemukan istilah sekolah unggulan. Lalu SMANU MH Thamrin termasuk kategori yang mana ? jawaban ini dibutuhkan segera agar dapat ditentukan sumber pembiayaan SMANU MH Thamrin yang sah.

Selama menunggu putusan mengenai status unggulan SMANU MH Thamrin, menghadapi tahun pelajaran 2013/2014 penggunaan dana bersumber komite agar ditekan seminimal mungkin dan pada saat yang sama memaksimalkan dana APBD. Upaya pemaksimalan dana APBD dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran PNS dalam kegiatan pembelajaran menggantikan guru outsourcing. Dana yang dapat dihemat dari sini digunakan untuk membiayai kegiatan after school, karena peserta didik masih membutuhkan layanan akademik di luar jam pelajaran baik itu pengayaan maupun remedial. Jika masalah kompetensi menjadi halangan bagi guru PNS untuk dapat mengajar peserta didik cerdas, maka SMANU MH Thamrin dapat mempertahankan guru outsourcing, tetapi perlu mempertimbangkan untuk memperbarui kontrak kerja dengan konsultan mengenai tugas dan tanggung jawab guru. Karena untuk sekolah unggulan berasrama seperti SMANU MH Thamrin membutuhkan guru yang tidak hanya hadir mengajar di kelas, tetapi juga mengerjakan tugas-tugas tambahan yang dibutuhkan sekolah. Pilihan lainnya adalah Merekrut guru honorer dengan standar kompetensi seperti yang dibutuhkan dan standar gaji yang sesuai. Guru honorer itu akan mendapatkan tugas mengajar dan tugas tambahan lainnya sesuai dengan kebutuhan sekolah. SMANU MH Thamrin masih membutuhkan tenaga dan pikiran banyak orang untuk dapat terus dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional.

Karyawan honorer sebanyak 30 orang akan menjadi persoalan apabila dana sumbangan orangtua berkurang atau hilang. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara untuk rasionalisasi atau mengalihkan tenaga administratif tersebut ke dalam manajemen konsultan. Sehingga renumerasinya menjadi tanggung jawab konsultan di SMANU MH Thamrin. Hal itu tentu akan mengubah juga rincian kontrak konsultan dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Mumpung tahun anggaran baru belum dimulai, masih ada kesempatan untuk menyesuaikan segala sesuatunya.

Para pihak yang berkepentingan dapat duduk bersama untuk menyusun struktur kurikulum yang efektif dalam mewujudkan visi sekolah, melaksanakan kegiatan pengembangan karakter, kepribadian, minat dan bakat baik pada jam intra maupun ekstra kurikuler. Diskusi akan semakin mematangkan konsep dan gagasan pengelolaan SMANU MH Thamrin di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s