Science Study club sebagai sarana pembinaan siswa calon peserta OSN

SCIENCE STUDY CLUB SEBAGAI SARANA PEMBINAAN SISWA CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL

(Ahmad Yani, M.Si)[1]

Pendahuluan

Olimpiade Sains nasional (OSN) adalah ajang kompetisi yang bergengsi bagi siswa mulai dari jenjang sekolah dasar sampai SMA. Sejak pertama sekali diadakan pada tahun 2002 di Yogyakarta, maka sampai dengan tahun 2008 ini OSN telah diselenggarakan sebanyak tujuh kali. Pertama sekali pada tahun 2001 di Yogyakarta, walaupun pada waktu itu belum bernama OSN, kedua, diselenggarakan di Balikpapan, ketiga di Pakanbaru, keempat di Jakarta, kelima di Semarang , keenam di Surabaya, dan ketujuh di Makasar.

OSN 2008 yang diselenggarakan di Makasar pada 2-5 Juni 2008 lalu, telah diikuti oleh 14.095 peserta  siswa SMA dari 33 propinsi di seluruh Indonesia untuk seleksi tingkat propinsi dan hanya  menyisakan 750 peserta untuk tingkat nasional. Angka ini menunjukkan betapa kompetitifnya ajang ini. Belum lagi apabila kita memperhitungkan jumlah siswa yang berpartisipasi pada tingkat kabupaten/kota atau bahkan di tingkat sekolah. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas sebagai pelaksana kegiatan ini bermaksud menjaring siswa-siswa berbakat dari seluruh Indonesia untuk masuk kedalam tim nasional yang akan bertanding pada kompetisi-kompetisi sains tingkat internasional seperti : Internasional Mathematics Olympiad (IMO), International Physics Olympiad (IPhO), International Chemistry Olympiad (IChO), International Biology Olympiad (IBO), International Olymiad in Informatics (IOI), International Astronomy Olympiad (IAO), dan International Earth Science Olympiad (IESO).

Keikutsertaan Indonesia pada ajang kompetisi Sains Internasional telah mengharumkan nama bangsa, karena prestasi anak bangsa pada ajang tersebut cukup membanggakan. Hal lain yang dirasakan manfaatnya adalah terlecutnya semangat para siswa dan bangsa Indonesia pada umumnya karena mereka sekarang percaya bahwa mereka mampu, guru dan sistem pendidikan juga terpacu untuk mengimbangi prestasi anak didiknya dengan cara melakukan peningkatan kualitas keilmuan dan pengajaran dalam rangka memberikan layanan yang lebih baik bagi siswa.

DKI Jakarta sebagai propinsi paling modern dan juga ibukota Negara sangat berkepentingan untuk menjadi yang terdepan pada setiap ajang OSN. Jakarta sampai saat ini masih dipandang sebagai barometer pendidikan nasional. Oleh karena itu Pemerintah propinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai upaya untuk meraih kesuksesan di ajang OSN. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan desentralisasi pembinaan siswa untuk mengikuti ajang OSN. Pemerintah propinsi sejak 2005 telah membentuk beberapa science center sesuai dengan bidang studi yang dilombakan pada OSN (matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, bahasa inggris, astronomi, kebumian dan komputer) di sekolah-sekolah tertentu. Selanjutnya diharapkan guru bidang studi yang tergabung dalam kegiatan MGMP di sekitar sekolah tersebut secara bersama melakukan penjaringan dan pembinaan calon peserta OSN. Setelah itu siswa hasil pembinaan tersebut akan diikutkan pada seleksi tingkat kotamadya atau kabupaten hingga propinsi. Siswa yang terpilih mewakili kotamadya akan dikirimkan ke tingkat propinsi untuk mengikuti seleksi dan pembinaan lebih lanjut. Hingga pada akhirnya akan diperoleh siswa yang berhak mewakili propinsi DKI Jakarta di ajang OSN.

Menyambut gagasan dan rencana strategis tersebut sekolah yang menjadi lokasi science center bekerjasama dengan MGMP untuk membuat program penjaringan dan pembinaan siswa calon peserta OSN. Science Center yang ada mendorong sekolah-sekolah di sekitar untuk melakukan proses penjaringan dan pembinaan siswa berbakat.

Strategi Pengelolaan Study Club

Misi pendidikan Nasional sesusai dengan UU sistem pendidikan nasional tahun 2005 telah secara tegas mennyatakan  “meningkatkan mutu lulusan sehingga berdaya saing di tingkat internasional, meningkatkan relevansi pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memfasilitasi terbentuknya masyarakat pembelajar, dan meningkatkan profesionalitas dan akuntabitas lembaga pendidikan”.

Prof. Yohannes Surya memandang bahwa penyelenggaraan olimpiade fisika telah mendorong terjadinya peningkatan kompetensi guru dan siswa, meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam  mempelajari fisika. Tentunya pendapat tersebut dapat digeneralisasikan untuk mata pelajaran lain. Sehingga secara jelas tergambar bahwa keberadaan OSN dan science center adalah dalam rangka percepatan pencapaian misi pendidikan nasional.

Secara alamiah seharusnya akan selalu dijumpai bahwa sebagian besar siswa dapat menyelesaikan standar ketuntasan yang telah ditetapkan, sebagian kecil siswa belum dapat melampaui standar dan sebagian kecil siswa telah dapat jauh melampaui standar. Bagi mereka yang belum dapat mencapai ketuntasan tersebut maka dibuatkanlah program remedial. Akan  tetapi bagi mereka yang telah jauh melampaui batas minimal maka perlu dibuatkan layanan khusus. Di sinilah letak pentingnya keberadaan study club di sekolah. Wadah ini dapat menjadi sarana memberikan layanan khusus bagi siswa-siswa tersebut.

Untuk menjalankan study club yang efektif sehingga dapat menghasilkan siswa-siswa yang siap diturunkan ke dalam ajang kompetisi sains baik yang bersifat lokal, nasional maupun internasional, maka menurut kami diperlukan tiga tahap pengelolaan, yaitu :

–         Penjaringan

–         Pembinaan

–         Seleksi

Tahap-tahap tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:

Tahap pertama : Penjaringan peserta kelas X.

Pada tahap ini kami menyebarkan angket tentang minat dan prestasi yang pernah diraih semasa SMP pada siswa kelas X.  Kami menyebarkan angket kepada 9 kelas reguler dan dua kelas internasional dengan jumlah siswa mencapai 406 siswa. Dari jumlah tersebut angket yang dikembalikan berjumlah 151 atau 37%. Sebagian besar siswa yaitu 51 siswa atau 34% siswa meminati study club matematika.

Langkah selanjutnya adalah mengadakan seleksi peserta study club karena idealnya kelas study club diikuti oleh 10 – 15 peserta. Angka ini ditetapkan agar tercipta iklim kompetisi diantara peserta study club sehingga  guru pembimbing dapat mencurahkan perhatiannya bagi perkembangan siswa. Karena apabila jumlah peserta study club terlalu banyak maka perhatian dari guru pembimbing juga akan berkurang di samping tentunya akan dijumpai disparitas kemampuan siswa yang cukup besar.

Bagi kelas study club yang belum memiliki peserta mencapai 10 orang, maka kami akan mengupayakan agar daya tampung 10 -15 orang ini terisi dengan cara  melakukan sosialisasi dan persuasi kepada siswa yang potensial dan telah direkomendasikan oleh guru pembimbingnya, atau dengan menawarkan tempat yang masih kosong ini kepada peminat study club bidang study lain yang menurut hasil seleksi tidak dapat diterima  pada bidang study tersebut.

Tes seleksi peserta terdiri dari tiga bentuk tes yaitu tes potensi kemampuan akademis, motivasi, dan bidang study yang bersangkutan. Hasil tes ini bersama database siswa mengenai prestasi dan nilai matrikulasi serta NUN akan dijadikan bahan pertimbangan bagi guru pembimbing untuk memilih siswa yang berhak mengikuti study club.

Setelah terpilih minimal 10 siswa untuk mengikuti study club pada tiap-tiap bidang study, selanjutnya adalah menjalankan kelas study club setiap Sabtu atau hari lain yang disepakati.

Tahap kedua : Pembinaan melalui study club.

Proses pembinaan ini diperkirakan akan berlangsung efektif selama kurang lebih enam bulan yaitu mulai bulan oktober 2008 sampai maret 2009. Pembinaan study club akan dilaksanakan setiap hari sabtu atau hari lain yang telah disepakati dengan waktu yang akan diatur kemudian. Jika melihat kalender akademik maka diperkirakan hanya akan ada  kurang lebih 18  kali pertemuan.

Guru pembimbing terlebih dahulu menyusun program pembinaannya dengan mengacu kepada silabus dan soal-soal osn terdahulu.

Siswa yang mengikuti pembinaan idealnya 10-15 siswa dalam satu kelas. Jumlah ini diambil dengan alasan bahwa pada akhirnya siswa yang akan dipilih mewakili sekolah berkisar diantara angka 5 sampai 7 siswa. Sehingga di dalam kelas tersebut tetap terpelihara iklim kompetisi. Untuk memelihara iklim kompetisi di dalam kelas guru pembimbing secara reguler memberikan tes kepada siswa tentang materi yang telah dipelajari dan menyampaikan hasilnya baik kepada pengelola maupun siswa.

Masalah yang akan muncul setidaknya  tiga hal yaitu, pertama, berkurangnya jumlah peserta study club sejalan dengan waktu, kedua, siswa hadir secara berganti-gantian sehingga kesinambungan materi pelajaran menjadi terganggu, dan ketiga jadwal study club bersamaan dengan jadwal kegiatan yang lain sehingga mengakibatkan ketidakhadiran siswa ataupun guru.

Untuk mengantipasi hal tersebut maka kami akan menempuh tiga cara yaitu :

1.        Pihak sekolah dalam hal ini tim OSN 2009 merumuskan peraturan yang mengikat bagi siswa dan guru pembimbing study club.

2.        Membuat komitmen bersama antara guru pembimbing, orangtua/wali, dan siswa tentang urgensi kegiatan study club. Pendekatan guru pembimbing kepada siswa dan  pertemuan antara pihak sekolah dengan orang tua/wali menjadi cara untuk melahirkan komitmen tersebut.

3.        Membekali siswa dengan motivasi,  penguatan mental,  dan kepribadian mereka agar siswa dapat terus memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi dan mental yang pantang menyerah dalam mearih keberhasilan. Pembekalan motivasi direncanakan dengan menghadirkan alumni yang berprestasi atau kepala sekolah/wakil/guru untuk memotivasi mereka.

4. Senantiasa meningkatkan kemampuan guru pembimbing melalui kegiatan pelatihan baik yang diadakan oleh sekolah maupun oleh instansi lain. Pelatihan yang sebaiknya diikuti oleh guru adalah pelatihan tentang topik khusus pada bidang study tertentu.

Pada proses pembinaan ini guru dapat menggunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda. Salah satu teknik yang telah dilaksanakan di SMAN 8 Jakarta adalah dengan cara peer tutor. Siswa kelas XI yang telah mendapatkan pembinaan tahun lalu tetap mengikuti kelas study club bersama kelas X, tetapi mereka ditugaskan untuk membantu siswa  kelas X dalam memahami materi pelajaran.

Guru pembimbing menggunakan kompetisi-kompetisi sains yang diadakan perguruan tinggi, MGMP, Dikmenti dan Depdiknas untuk mengasah kemampuan, membina mental,   dan mempercepat proses belajar para peserta study club.

Tahap ketiga : Seleksi Tingkat sekolah

Memasuki babak akhir pembinaan pada sekitar bulan maret 2009, kami merencanakan menyelenggarakan tes seleksi tingkat sekolah untuk mendapatkan sejumlah siswa (tergantung kuota) guna mewakili sekolah dalam seleksi OSN tingkat kabupaten/kota.

Tes seleksi tersebut melibatkan seluruh siswa SMAN 8 Jakarta kelas X dan XI dan dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama diikuti seluruh siswa kelas X dan XI dengan bentuk soal pilihan ganda. Siswa yang dinyatakan lulus seleksi tahap I akan mengikuti tes seleksi tahap kedua. Seleksi tahap kedua hanya akan diikuti paling banyak 20 siswa. Bentuk soal seleksi tahap kedua adalah essay dan sudah mencerminkan soal-soal untuk olimpiade sains nasional. Seleksi tahap kedua akan menjaring tujuh siswa terbaik untuk tiap bidang study. Selanjutnya guru pembimbing memberikan rekomendasi tentang siapa saja yang berhak mewakili sekolah dengan menggunakan hasil seleksi tersebut.

Setelah menyelesaikan tiga tahap tersebut, tugas tim OSN adalah melakukan pendampingan selama proses seleksi dan pembinaan dari Sudin jakarta selatan maupun Dikmenti provinsi DKI Jakarta.

Seperti yang terungkap pada rapat-rapat dengan guru pembimbing bahwa salah satu kelemahan siswa adalah mental bertanding dalam menghadapi kompetisi yang panjang. Oleh karena itu kehadiran seorang guru pembimbing akan sangat memiliki arti penting di tengah siswa apabila disertai dengan ucapan dan tindakan yang membangkitkan motivasi.

Penutup

Kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan agar program ini dapat berjalan dengan lancar. Program ini membutuhkan orang-orang dengan kompetensi beragam, kepala sekolah, wakil dan staf sebagai pengelola, guru-guru bidang studi, karyawan, orang tua, siswa,  dan komite sebagai penyandang dana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s